Tampilkan postingan dengan label Bukan Kisah yang Bermakna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan Kisah yang Bermakna. Tampilkan semua postingan

Setelah 2300 Hari



Gemercik rintik hujan yang menabrak genting-genting rumah perlahan mulai mengeras sebelum akhirnya rintik-rintik itu berganti menjadi pintalan-pintalan benang yang jatuh dari angkasa. Aroma tanah basah yang dulu amat kusukai kian menusuk hidung. Aku beranjak dari ranjangku, menutup jendela yang masih kubiarkan terbuka sejak sore tadi. Ibu berkali-kali mengingatkanku untuk menutupnya sebelun magrib, namun kuabaikan. Aku butuh udara segar di kamarku.

Aku berdiri di depan cermin. Memandangi bayangku. Menatap kosong pada kedua bola mataku. Aku tak bertahan lama. Kembali kubersembunyi di balik selimut. Aku tak ingin mendengar suara hujan di malam hari, apalagi menikmati keharuman tanah basah. Aku sungguh membenci hal itu. Setiap tarikan nafas yang ikut membawa aromanya ke darahku, membuatku menerima rasa sakit yang sama. Luka itu belum sembuh. Setiap kali tumbukan hujan itu terdengar di telingaku, kenangan itu seakan nyata di mataku. Aku benci pada aroma tanah basah, apalagi suara hujan di malam hari.
Aku berusaha menutup telingaku erat-erat, tapi usahaku sia-sia. Hujan semakin deras, pun air mataku yang tak lagi bisa kubendung. Kusingkap selimutku, aku kembali dari persembunyianku. Aku menyerah! 

Isakku semakin deras ketika bayangan kilat menyala di jendela. Semuanya berakhir. Kukira aku telah berhasil mengubur kenangan itu dalam-dalam. Nyatanya, aku tak berhasil, aku salah kaprah. Aku hanya berusaha untuk tak mengingatnya, bukan berusaha untuk mengikhlaskan segalanya.
Setelah dua ribu tiga ratus hari berlalu, aku masih berada dalam keterpurukkan yang sama seperti hari itu. tidak sedikitpun berubah. Tangisku masih sama, lukaku juga masih sama parahnya--tidak mengering.

Dua ribu sembilan puluh sembilan hari aku menyia-nyiakan kesempatan. Berlari kesana kemari, tersenyum sumringah, menguatkan diri dan… semuanya berkahir malam ini. Suara hujan, aroma tanah basah—luluhlanta semua usahaku.

Masih pekat diingatanku, malam itu kita bertemu untuk merayakan hari terakhir kebersamaan kita sebelum kau hijrah ke benua seberang. Kita tidak tahu bahwa itu bukan sekedar malam terakhir kita berada di benua yang sama, bahwa ternyata malam itu pun malam terakhir kita berada di dunia yang sama. Semua tidak akan terjadi jika aku bisa menahan amarah. Bila aku sanggup mengalahkan egoku sedikit saja, mungkin kau masih di sini meski kita tak lagi saling menggenggam.

Malam itu kau bawakan sebuket baby breath untukku. Katamu, bunga ini melambangkan sebuah kepolosan dan ketulusan, seperti aku. Aku tersipu. Kau bukan seseorang yang puitis, kau sungguh biasa-biasa saja. Itu adalah kalimat luar biasa yang pertama kali kudengar malam itu setelah sekian lama kita bersama. Aku tak tahu entah darimana kau belajar tentang bunga, bahkan aku tak mengerti mengapa kau mendadak berubah sedewasa itu. 

Kita menikmati malam di taman rumahku. Menatap purnama bersama, sebelum akhirnya dering handphonemu merusak segalanya. Deringnya semakin keras, kau hanya abai. Aku memberitahumu, tapi kau tak peduli. Handphonemu berkali-kali bordering, aku merasa terganggu. Katamu salah sambung, tapi kau enggan mengangkatnya. Aku melihat aura yang berbeda di wajahmu. Hingga akhirnya aku kalap, kurebut handphone itu dan aku menerima panggilan. Di seberang sana, seseorang memanggilmu dengan sebutan ‘sayang’ yang sangat manja. Jelas itu seorang wanita, bukan ibumu. Aku beranjak, melempar benda itu sembarang. Kau menahanku, tapi amarah dalam dadaku terlalu membara. Kau mencoba menenangkanku, tapi egoku terlalu tinggi. Aku tak butuh bunga itu. aku tak butuh penjelasan apapun. Kata ‘sayang’ itu telah menjelaskan segalanya. Purnama di langit sana perlahan meredup tertutup awan. Mungkin ia takut menyaksikan pertengkaran besar itu.
Aku pergi meninggalkanmu seorang diri. Aku berlari ke kamarku, menahan tangis semampuku. Aku berdiri di balik jendela. Menyingkap tirainya sedikit, melihat kepergianmu. Pikiranku kacau, aku tak percaya bahwa kau tega mengkhianatiku. Belum lima menit setelah kau meninggalkan taman, hujan deras turun membasahi bumi. Hujan berhasil memecah tangisku. Aku menutup wajahku dengan bantal, aku tak ingin seorangpun mendengar tangisku. Berat sekali menanggung luka pengkhianantan.

Entah berapa lama aku bertahan dalam tangisku hingga aku tertidur pulas. Memimpikan kebersamaan kita. Mimpi indah itu buyar ketika ibu membangunkanku, memelukku erat dalam tangisnya. Aku kebingungan, tak mengerti yang terjadi. Ia memintaku mengganti pakaian, memakai serba hitam, ada yang ingin disampaikan. Tak butuh waktu lama, aku tiba di rumahmu, masih dipekatnya malam, masih diiringi rintik hujan, rumahmu dipenuhi orang-orang berwajah muram, berpakaian serba hitam. Langkahku semakin dekat dengan pintu utama, lantunan ayat-ayat cinta semakin terdengar jelas dan aku semakin kebingungan. Aku tiba, ibumu menubrukku, memelukku erat-erat, membisikkan kalimat-kalimat penguat yang tak kupahami. Ia menuntunku perlahan menuju pada sosok yang terbaring di tengah ruangan, dikelilingi oleh khalayak ramai dan tertutup rapi sehelai kain. Aku masih tak paham, memandang kosong pada sekeliling. Ayahmu membuka kain itu perlahan dan… Deg! Itu kamu! Tertidur pulas untuk selamanya. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Yang kutahu aku terbangun dengan kepala berat, berada di depan gundukkan tanah yang penuh dengan bunga bertuliskan namamu. Aroma tanah basah dan wangi bunga itu menusuk hingga relung hati terdalam. 

Aku menangis sejadi-jadinya, meratapi kepergianmu. tangisku semakin keras tatkala aku tahu bahwa gadis itu adalah sepupumu, dia terbiasa memanggilmu 'sayang'. Panggilan itu ia lontarkan untuk membuatmu kesal, dia sama sepertiku-- sedikit jahil. Aku sungguh sangat menyesal, aku tak bisa melawan egoku. Seharusnya, hari itu aku memang mengantarkan kepergianmu. Bukan ke dunia lain, tapi ke benua lain. Hari itu memang perpisahan kita, bukan untuk selamanya, tapi hanya sementara. Namun, takdir berkata lain. Kau pergi—kita berpisah untuk selamanya. 

Setelah dua ribu tiga ratus hari berlalu. Perasaanku masih sama, tidak ada yang berubah. Belum ada yang bisa menggantikanmu. Kau tetap satu-satunya yang kumiliki dan memiliki hatiku. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa menerima kenyataan. Entah berapa banyak hari lagi yang kubutuhkan untuk memaafkan diriku sendiri. Aku menyesal. Tapi, tak ada yang bisa kembali. Semua telah terjadi.

20032016
Zatul Omaira

Sepotong Luka


“Brukkk!!” Aku tak sengaja menabrak seseorang. “Maaf…!” aku Buru-buru membereskan buku yang terjatuh.
 
“No problem, ini salah saya…!” ucap wanita itu.

 Aku berdiri. Lalu kulihat wajahnya. “Vi??” ujarku.

“Sa?” Ia tak kalah kaget. Beberapa detik kami saling terpaku. Lalu ia menubrukku, memelukku erat.

“Sa, aku sungguh merindukanmu…” bisiknya.

“Aku juga..” lirihku sambil mempererat pelukan itu.

Vira dan aku adalah sahabat lama. Kami berteman sejak memulai pendidikan di taman kanak-kanak dan berlanjut sampai ke bangku sekolah menengah atas. Kami sudah merancang untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang sama, namun takdir berkata lain. Ayah Vira bekerja di kedutaan besar dipindahkan tugas ke luar negeri, sehingga Vira ikut bersama. Di bulan-bulan pertama perpisahan kami, aku merasa seperti kehilangan separuh nyawa, meskipun kami tetap bisa berkomunikasi melalui media social. Setelah lima tahun berlalu, entah takdir apa yang Tuhan rencanakan, hari itu kami diizinkan kembali bertemu, melepas rindu, memeluk kembali kehangatan yang telah lama membeku.

“Kau baik-baik saja, Sa?” Vira menangkap kelelahan diwajahku.

Aku mencoba tersenyum seriang mungkin. “Tentu saja. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Vi?” ujarku berdalih.

Vira mengangguk pelan sambil menyeruput cappucinonya. “Meskipun lima tahun kita tidak bertemu, aku masih sangat mengenalmu, Sa. Jangan berbohong padaku..” 

Aku kaget mendengar kalimatnya. “Maafkan aku…” aku kalah.

Vi menarik tanganku, menggenggamnya erat. “Apakah kau tak percaya padaku lagi, Sa?”

Aku membalas genggaman itu. “Aku selalu percaya padamu, Vi…”

“Lalu, kenapa kau enggan berbagi padaku? Aku ingin kita kembali sehangat dulu, Sa..” ujarnya.

“Aku juga. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan hal ini. Aku merasa kepalaku akan pecah setiap kali memikirkannya..”

“Maka kau harus berbagi, Sa. Masalah itu akan semakin besar bila kamu hanya memendamnya seorang diri. Berbagilah, meskipun kamu tidak akan menemukan solusi yang tepat, setidaknya bebanmu akan sedikit hilang.” Jelasnya panjang lebar.

“Aku ingin sekali berbagi, tapi tidak sekarang…”

“Lalu kapan? Ketika kamu hampir gila? Atau saat aku dan kamu ada di dunia berbeda?” 

“Bukan gitu, Vi. Aku butuh waktu…”

“Kamu butuh waktu, dan kamu tahu pertemuan kita juga sangat singkat. Minggu depan aku kembali ke Sydney. Ayah memberikan waktu satu minggu untukku bertemu denganmu.” 

“Baiklah..” jawabku lemas.

Vi menatapku tajam. Aku memalingkan wajah, melihat langit yang membiru. “Ini tentang Rey?” Vi mulai menyelidiki.

Aku menarik napas dalam. Mengangguk pelan.

“Apa yang terjadi?”

“Aku menyerah…” lirihku.

“Apa? Kenapa?” Vi menyerangku.

“Entahlah. Aku merasa tidak ada yang perlu kuperjuangkan lagi.”

“Maksudmu?”

“Vi, apakah kau sanggup memperjuangkan seseorang yang jelas-jelas memperjuangkan orang lain?”

Vi menggeleng, ia semakin kebingungan. “Aku tak mengerti..” jawabnya.

“Rey hanya mempermainkanku, ia mencintai orang lain, bukan aku. Ia menjadikanku sebagai bonekanya, pelarian semata.”

“Tapi…”

“Itulah Rey yang sesungguhnya. Entah ia sengaja menyakitiku atau hanya ingin menguji kesabaranku. Aku tak peduli, Vi. Aku lelah menghadapi sikapnya. Wanita itu butuh kepastian, Vi.” Aku memotong kalimatnya.

“Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku tak tahu harus membela siapa. Rey pun tak pernah mengatakan apapun padaku setelah ia bertanya adakah lelaki lain dihatimu, aku mengatakan hanya ia satu-satunya dan ia tak membalas pesanku lagi. Lalu setelah itu kami tak pernah lagi berkomunikasi.”

“Sudahlah Vi, aku tak ingin membahas ini lagi. Aku benar-benar berhenti untuknya. Aku ingin melupakan semua ini…”

“Semangat, Sa. Aku akan selalu mendukungmu.” Vi memelukku.

“Terima kasih, Vi…” bisikku dalam pelukannya.

Jemput yang mencarimu, jangan cari yang membiarkanmu…
110116 | 17.07
Zatul Omaira

Kaulah Kamuku

Mengagumi adalah hal sederhana. Namun, semuanya menjadi pelik ketika rasa kagum itu berubah menjadi cinta. Aku tak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada sosoknya. Ia terlalu sederhana untuk kucintai. Ia bahkan bukan tipikal pria idamanku, ia tak romantis seperti para actor Hallyu yang kugilai, ia terlalu sederhana. Tapi, ia istimewa dengan caranya.
 
Mencintai tak butuh banyak hal, hanya memerlukan hati yang siap terluka. Aku sudah siap dengan segala risikonya, termasuk terluka. Lelaki itu bukanlah sosok yang perhatian pada wanita, ia terlalu bodoh untuk melakukan hal itu. Satu-satunya yang membuatku dekat dengannya adalah selera humornya yang baik dan kegemaranku bercanda. Ia seniorku di sekolah. Aku merasa ia memiliki kepribadian ganda. Bagaimana tidak, jika kami bertemu di sekolah ia bersikap seakan kami tak saling mengenal, sedang di dunia maya sikapnya seratus delapan puluh derajat berbeda, ia seolah telah berteman lama denganku.

Saat itu adalah bulan ramadhan. Aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat. Sedang ia telah lulus dari sekolah. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di handphoneku, ternyata darinya. Seperti biasanya kami hanya saling mencandai satu sama lain, karena terlalu penat aku tak sengaja tertidur. Ketika bangun tidur kudapati sebuah pesan darinya, aku tak menyangka ia akan bertanya hal yang selama ini bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Aku tak menjawab pertanyaan itu, aku malah bertanya maksudnya bertanya demikian. Sayang, ia tak pernah membalas pesanku. Sejak saat itu hingga kini tak ada lagi komunikasi di antara kami. Aku tak tahu penyebabnya, namun satu hal yang kucatat bahwa sejak hari itu aku mulai mencintainya.

*** 

Setelah tiga tahun tak pernah bertemu. Hari ini aku kembali melihat wajah itu. Wajah yang selalu menghantui malamku. Ia telah banyak berubah, hanya senyum manisnya yang masih tersisa indah. Aku ingin menyapanya, tapi aku tak punya keberanian yang amat besar. Aku hanya menatapnya dari balik tembok, memperhatikan dengan seksama lengkungan wajahnya. Sedetikpun tak kulepas pandanganku darinya.  Ia membuatku lupa pada seseorang yang kini memiliki hatiku.

“Niza…?” panggilmu. Aku terbelakak tak percaya; terkejut. “Hei, kok bengong??” kau menepuk bahuku.
Aku tersadar dari lamunanku. “Eh.. kak .. Farhan…” jawabku terbata-bata. “Kenapa aku malah ngelamun di depan dia? Kenapa aku gugup? Sungguh menyebalkan..!!” rutuku dalam hati.

“Apa kabar kamu? Udah lama yaa enggak ketemu. Kuliah dimana sekarang?” tanyamu memecah kesunyian yang menderaku.

“Aku baik kak. Sekarang aku sedang di sastra UI. Kakak sendiri bagaimana?”

“Seperti yang kau lihat sekarang. Oh ya, ada yang ingin kubicarakan denganmu, bisa kita ke tempat yang agak sepi??” ajaknya.

“Baiklah..” jawabku singkat. Aku mengikutinya, hatiku berdebar. “Apa yang ingin ia sampaikan, mungkinkah…? Ahh tidak mungkin..!! Ayo Niza positif thinking…” gumaku dalam hati.

Ia mengajakku ke taman belakang. Tak ada orang lain sana, hanya aku dengannya.  “Za, maaf jika aku mengatakannya sekarang. Sebenarnya aku menyukaimu sejak tiga tahun lalu, saat kita masih sekolah. .” ia mengatakannya perlahan.

Aku terkejut mendengar pengakuannya itu. Sungguh di luar dugaan. “Ke..kenapa sekarang baru kau katakan kak?” tanyaku menyembunyikan kepedihan.

Ia menghela napas, melempar pandangannya pada langit yang mulai memerah. “Aku tak berani mengatakannya dulu, karena aku takut akan mengganggumu..”

“Menggangguku? Apa maksudmu?” aku semakin bingung di buatnya.

“Aku tak ingin merusak hubunganmu dengan pacarmu…”

“Pacarku? Aku tak pernah pacaran …” jawabku polos.

“Lantas, status-status facebookmu itu untuk siapa? Apa kau hanya iseng menulisnya?” wajahnya sangat serius.

Lagi-lagi ia membuatku terkejut. “Tuhan, ternyata ia juga melakukan hal yang sama sepertiku..” batinku tak percaya. “Kenapa kau bertanya kak? Kau benar-benar tak tahu siapa dia?” geramku.

“Bagaimana aku tahu jika kau tak memberitahuku..??” suaranya meninggi.

“Itu kau kak!!! “Kamu yang selalu kusebut dalam tulisanku adalah kau…!!!” kali ini air mataku tak bisa lagi diajak berkompromi.

Ia menatapku tak percaya. “Kau tak bercandakan Za? Kenapa kau tak memberitahuku??” bentaknya.

Ia membuatku ketakutan. Aku tak menyangka akan menghadapi hari seperti ini. “Jawab aku Za, jawab aku..!!” desaknya. Aku masih bergeming. Berusaha mengumpulkan kekuatanku yang hilang entah kemana. Beberapa saat kubiarkan angin membelai pipiku, kutarik nafas dalam-dalam, “Ini bukan saatnya bermelow Niza..!!” jeritku dalam hati. “Bagaimana mungkin seorang gadis sepertiku berani mengungkapkan perasaannya pada seorang lelaki? Bahkan kau yang lelaki pun tak mampu melakukannya bukan?”.

“Tapi aku amat terluka karenamu…” lirihmu.

“Lalu kau kira aku tidak terluka? Lukaku lebih dalam darimu kak. Hari itu pertanyaan konyolmu yang tak pernah memberiku penjelasan telah membuatku diam-diam mencintaimu. Kau tahu, aku selalu menatapmu dari kejauhan, tapi kau tak pernah menyadarinya. Setiap kali hujan turun, aku selalu merinduimu, lantas aku hanya berani menangis dalam diam. Bahkan, aku hanya bisa menggigit bibir menahan perih saat kulihat bahagianya dirimu berfoto dengan seorang wanita. Namun, aku sangat bahagia meski hanya bisa menyentuh wajahmu di layar monitorku..” suaraku parau tercekat tangis.

“Ma.. maafkan aku Za. Aku sungguh tak tahu. Lantas bagaimana kau bisa setegar ini?”

“Kau tahu, mengapa banyak orang terluka dan tertatih karena cinta? Itu karena mereka lupa bahwa cinta yang haqiqi milik-Nya semata. Aku memang mencintaimu kak, tapi karena aku percaya cinta Tuhan lebih besar untukku, aku mampu bertahan.”

“Ah, kau benar. Aku melupakannya. Maafkan aku Za, tapi masihkah mungkin untuk kita bersama??”

“Jujur kak, aku masih mencintaimu sedalam dulu, tapi untuk bersama itu tak mungkin. Andai kita bertemu lebih cepat….” Belum sempat kuteruskan kalimatku, tiba-tiba handphoneku berdering. Aku mengangkatnya, “Sayang, kamu dimana? Aku udah di depan nih, cepat kemari yaa..??” ucapnya dari seberang sana.

 “Sebentar, aku lagi ditoilet..” aku berbohong padanya, lalu kututup handphoneku.

Ia menatapku kebingungan. “Apa maksudmu?” tanyanya penuh selidik.

“Aku tak lagi sendiri, kak. Aku telah meilih orang lain, aku lelah menunggumu. Mungkin aku berdosa karena membohonginya, aku berkata mencintainya sedang hatiku masih bertaut padamu. Tapi, aku yakin ketulusan cintanya akan meluluhkan hatiku dan aku akan melupakanmu. Maafkan aku..” aku berlalu, tapi ia menahanku. “Kau tak boleh melakukan itu Za.., kau tak hanya menyakiti dia, tapi kau juga melukai dirimu…” ia membujukku. 

“Aku tahu. Maafkan aku, kuharap kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku…” kulepaskan tanganku dari cengkramannya, lalu pergi meninggalkannya yang masih mematung kebingungan. 
 
***

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya. Mari kita pergi..” jawabku singkat.

Ia tersenyum nakal kepadaku, lalu berbisik “Aku mencintaimu…” aku meringis. Menahan kepedihan yang kutoreh sendiri.


My sweet room, 08072014 | 22.22 WIB…
Dicintai atau mencintai?
Bukan pertanyaan yang harus terjawab…
Zatul Omaira

Lupakan


Setiap kali bertemu mereka, menyapa, lalu berbicara. Menceritakan semua hal hingga berujung pada pertanyaan yang terkesan membosankan. Iya, membosankan karena pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya membuatku semakin terluka.

Aku percaya bahwa Allah Maha Adil. Aku juga tau Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Dan Allah Maha Bijaksana, sehingga semua scenario kehidupan hamba-Nya telah tertata apik tanpa mungkin diganggu gugat kecuali atas kehendak-Nya. Semua telah terjadi sebagaimana takdir-Nya. Tidak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditangisi, tapi mata tak mampu berbohong. Perih di hati terlalu sulit disembuhkan. 

Bagi sebagian orang mungkin ini adalah hal biasa, namun aku terlalu membesar-besarkannya. Dan sebagian lagi menganggap ini bukan hal penting. Tak perlulah menyia-nyiakan waktu hanya untuk merenung memikirkan sesuatu yang tak mungkin bisa berubah. Dan aku termasuk sebagian orang yang berada di garis kedua. Ya, aku memang tipe manusia yang tak ingin memperdulikan masa lalu. Tak mau menjadi pengemis harapan. Tapi, kali ini aku melupakan prinsip keras yang telah tertanam dalam diriku bertahun-tahun. Aku terpuruk, jatuh dalam lubang terdalam yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Tergores luka yang tak pernah terbayang dalam benakku.

“Sabar. Ini bukan yang terbaik untukmu..” seseorang mengatakannya dengan tulus padaku.
“Sudahlah, lupakan saja. Tuhan memiliki rencana yang lebih indah..” yang lain turut menyemangati.
“Mungkin belum rezeki, masih ada waktu untuk mencobanya. Tegarlah..” 

Mereka yang mencintaiku selalu setia disampingku datang memelukku. Membiarkanku menumpahkan segala perih dalam dekapan hangatnya. Membelaiku dengan penuh cinta, senantiasa menasehatiku, memberiku begitu banyak kalimat yang membuatku merasa lebih baik, tapi selalu mengakhirinya dengan ‘lupakan’. Ya, mereka selalu memintaku untuk ‘melupakan’ mimpiku. Mereka tak salah mengatakannya karena hal itu yang harusnya kulakukan agar diriku menjadi lebih baik. Supaya aku kembali tersenyum seperti dulu.

Namun, bukan kutak ingin untuk melupakannya. Bukan kutak mau sembuh dari sakitku. Tapi melupakan sesuatu yang kau cintai hampir seumur hidupmu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena untuk melupakan tidaklah semudah mengatakannya. Butuh proses yang amat panjang. Butuh semangat perjuangan yang membara. Butuh kesabaran dan ketegaran yang sangat kokoh. 

Ya, melupakan adalah yang terbaik. Tapi, tidak untuk saat ini. Aku manusia. Seperti halnya luka parah, ia akan pulih dalam kurun waktu yang lama. Dan tentunya meninggalkan bekas yang takkan hilang termakan waktu. Biarlah kurawat lukaku sendiri. Biar waktu yang menjawab. Biar Tuhan hadirkan keindahan untukku bila masanya tiba.

Satuhal yang perlu kau ingat dan kau camkan. Kau boleh meminta seseorang untuk melupakan lukanya, tapi kau tak boleh memaksanya untuk melupakan. Karena bila kau tahu seberapa sulitnya melupakan kecintaanmu, kau mungkin takkan pernah memintanya untuk melupakan.


19082014
Zatul Omaira