Jika Keadilan itu Nyata~


Dalam gemercik banyu yang luruh dari angkasa,
Ada rinai yang ikut mengalir dalam kesunyian
Ada luka yang tersemat dalam…
Ada perih yang menanti sentuhan..
“Benarkah keadilan itu nyata??”
Dayaku hilang bersama terpaan badai yang menghunjam raga.
Tak ada sajak yang mampu melukiskan pedihku
Hanya rintihan yang mengiris setiap sudut hati
Apa dosaku Tuhan??
Hingga keadilan tak pernah berpihak padaku…
Hinakah aku di mata-Mu???
Hingga perjuanganku tak pernah berarti…
Jika keadilan itu nyata…
Tunjukkan jalan-Mu agar kugapai cahayanya….

Keadilan dan lukaku…
101213
Zatul Omaira

Musim Gugur dan Kenanganku

Suasana musim gugur benar-benar indah. Menikmati lembutnya sapaan angin senja sembari menyaksikan romantisnya kepulangan sang mentari. Semua yagng membuat suasana hati kian membaik.
“Nara, ini sudah hampir waktunya shalat magrib, mari kita kembali ke penginapan!!”
“Astagfirullah, yuk Rin!!”
            Berat rasanya meninggalkan detik-detik kepergian sang surya, namun panggilan Illahi jauh lebih berat untuk kutinggalkan. Sesampai di penginapan, aku dan Airin langsung menunaikan kewajiban kami. Setelah selesai, kami kembali hanyut dalam aktivitas masing-masing.
Aku dan Airin adalah mahasiswa di Universitas Seoul. Kami sedang menikmati liburan sembari menyelesaikan penelitian di Pulau Jeju. Pulau Jeju merupakan tempat wisata panas yang booming dengan atraksi yang unik, tempat matahari terbit dan terbenam yang romantis dengan iklim ringan dan pantai berpasir yang indah.
Sudah lama aku bermimpi untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam di Pulau ini dengan seseorang. Namun, Illahi telah mewujudkan mimpiku, walau tidak seutuh yang kumau.
@@@
            Pagi ini kondisi tubuhku sangat tidak mendukung untuk melakukan penelitian di sekitar lereng Gunung Halla. Airin menyarankan agar aku beristirahat. Aku pun mematuhinya.
            Dalam pejam singkatku, ada segenap cerita menghampiri relung asa. Aku sedang menikmati desiran ombak yang mengagumkan. Tiba-tiba mataku menatap tajam ke arah seseorang di ujung utara. Aku mengenal sosok bertubuh jangkung dengan kacamata minusnya itu. Jantungku seolah berhenti berdetak ketika ia berjalan menghampiriku.
“Assalamu’alaikum..”, sapanya.
Aku masih kaget dengan kedatangannya. “Wa.. aa..laikumsalam”, jawabku tergagap.
“Afwan, kamu Nara ya??”
“Geurae, nan Nara imnida…”
“Syukurlah, saya tidak salah orang. Bisakah kita berbicara dengan bahasa kebanggaan kita?”
“Tentu saja akh..”, jawabku sambil tersenyum. (Aku sengaja menjawab dengan bahasa ini, agar aku dapat menyembunyikan keteganganku padamu). “Oh iya, kenapa anda bisa mengenal saya?”
“Maaf. Saya lupa, kenalkan saya Dhafi. Kita pernah satu tim ketika mengikuti seminar tentang penghijauan beberapa bulan yang lalu. Apa anda lupa?”
“Masyaallah, saya baru ingat, akh. Maafkan saya??”
“Tidak masalah. Kalau boleh tahu, apa yang anda lakukan di sini?”
“Emm... saya sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir, tetapi hari ini kondisi tubuh saya kurang fit, jadi tidak bisa melanjutkannya, anda sendiri?”
“Masyaallah, syafakillah ya Ukhti!! Saya sedang mengikuti sebuah seminar. Baiklah ukhty, saya harus kembali, semoga selalu dalam lindungan Allah.”
“Aaamiiin. Terimakasih Akh!!”
            Ia berlalu. Aku masih menatap sosoknya, berharap ia berbalik dan menatap sosokku pula. “Astagfirullahal’azim, apa yang kamu pikirkan Nara?”, hatiku berkecamuk. Kucoba tepiskan angan bodohku itu. “Ampuni hamba-Mu ini Rabbi??, ucapku dalam diam.
@@@
“Nara.. Nara.. bangun Nara..!! Ini Sudah subuh.”
Aku membuka mataku perlahan. Di balik silaunya cahaya lampu kamar, kulihat sosok berparas ayu sedang menatapku cemas ; Airin. Aku bangun dari tidurku dan mendesah, “Astagfirullah, ternyata cuma mimpi!!”.
“Ra, gwaenchanheun gayo?”
“Gwaenchanta!! Ini udah jam berapa? Kamu udah lama pulang Rin?”
“Iya, sama-sama. Jam 5 pagi. Aku pulang jam sembilan semalam. Absen dua rakaat dulu yuk, setelah itu kita packing.”
“Jadi, aku tidurnya lama banget donk. Terus aku gak shalat dhuhur, ashar, magrib, dan isya?? Kok kamu gak banguni aku??
“Maaf Ra. Tapi aku gatau, kukira kamu baru tidur satu jam yang lalu. Yasudah yuk kita subuh dulu???”
“Baik Rin!”, ucapku sembari melangkah dari tempat tidur.
@@@
Sebelum benar-benar akan meninggalkan Jeju, kutatap lekat-lekat hamparan biru yang menyejukkan. Ada kemelut di hati yang tak mungkin kuungkapkan pada semesta. Beberapa kata yang telah lama menanti ditorehkan pada lembutnya pasir putih, dan puncahan kerinduan yang membeku.
Aku masih mengingat percakapan hangat dalam mimpiku dengan sosok ikhwan bertubuh tinggi dan berkacamata itu. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku menyimpan perasaan padanya.
Mungkin saja mimpi itu akibat kerinduanku yang telah membuncah. Mungkin saja batinku tak sanggup lagi menampung butiran-butiran sendu itu. Namun, apa yang dapat kulakukan. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. aku hanya bisa berinteraksi dengannya dalam mimpi yang seharusnya tak pernah datang.
Tetapi, semua yang kualami telah tertulis dalam skenarionya. Meskipun berat, akan kubiarkan rasa ini tertinggal di hatiku. Biarlah ia itu tumbuh dan mengalir sesuai scenario dari Illahi.
Di sini, bersama nyanyian camar dan gerutan pelangi membelah bumi, kutitip cintaku, rinduku, dan kenanganku. Kujadikan musim gugur ini sebagai waktu terindah yang pernah kumiliki dalam hidupku.
“Ne, yeojaneun yakhaeyo dokhan cheokhaedo. Swipge chueogeul itgo saragaji motaeyo. Geuleona, naneun haengbog haeyo”
My sweet room, 21.01
Korea, I’m in love …
Zatul Omaira

NB :
*Geurae : Benar
* Gwaenchanheun gayo : Apakah kamu baik-baik saja?
* Gwaenchanta : Tak apa-apa
*Ne, yeojaneun yakhaeyo dokhan cheokhaedo : Iya, wanita itu lemah meskipun mereka berpura-pura terlihat kuat.
* Swipge chueogeul itgo saragaji motaeyo : Mereka tak dapat hidup dan melupakan kenangan dengan mudah
* Geuleona, naneun haengbog haeyo: Tetapi, aku bahagia

Peluk Aku Rabbi


Aku bingung harus memulai darimana. Terlalu banyak sudut yang terbentuk ketika pertemuan kita berlangsung. Tak ada yang istimewa, tak ada yang dapat dibanggakan dari sebuah pertemuan layaknya sebuah seminar. Kita hanya perlu duduk, mendengarkan, memahami, lalu mengamalkan segala ilmu yang kita peroleh.

Entah kenapa, ketika seorang teman mengirimkan pesan yang berisi sebuah kalimat yang sangat menakjubkan maknanya, seketika itu wajahmu langsung melayang dalam pikiranku, detik yang menginspirasi untuk menulis beberapa baris tentang (kita) takdir yang tak berpihak padaku pun datang.

Di luar sana, hujan dengan derasnya sedang membasahi tanah. Membersihkan semua kotoran (dosa) yang mengeras di dinding bumi. Rintihannya terdengar jelas membuatku beranjak menepi pada sisi jendela. Berharap ada pelangi yang muncul di langit malam (harapan bodoh; mustahil).

Kamu tentu tahu lagunya Afgan “Untukmu Aku Bertahan”. Liriknya sangat mengesankan, penuh makna bagi mereka yang sabar dalam penantian. Kamu pasti bingung mengapa aku mengaitkannya dalam cerita ini? Itu karena, aku juga mengalami hal yang sama.

Kamu tahu tentang semua rasa yang kupendam dalam. Namun, kamu tidak pernah memperdulikannya, kamu mengabaikannya, kamu menganggap tidak pernah tahu apapun. Tapi, caramu salah. Semakin kamu menghindariku semakin besar celah cinta yang terbentuk. Semakin aku memberontak melupakannya, semakin kuat kenangan kita tertanam dijiwaku. 

Tuan...!!! Sebutan itu pantas untukmu bukan? Aku tidak punya kosa kata lebih banyak untuk menyebutmu. Jika ku panggil sayang, tentu sangat tidak pantas. Mungkin saja dapat menimbulkan menimbulkan kekacauan hebat, (mungkin) ada yang cemburu. 

Aku memilih memendam perasaanku. Aku memilih mengubur rinduku. Aku membuat segalanya tampak indah, tanpa ada yang tahu saat kesepian menjuntai hanya air mata yang dapat member jawaban. 

Aku tidak punya banyak kekuatan untuk mendapatkan perhatianmu. Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan trik jiku untuk memilikimu. Aku juga tidak ingin merubah diriku demi menarik simpatimu. Aku hanya ingin menjadi diriku, aku yang (mencintaimu diam-diam) apa adanya.

Di zaman yang penuh kebebasan ini, orang-orang menyebutnya zaman munafik jika bertahan dalam kesendirian. Tapi, aku tetap memegang teguh suruhan Illahi. Aku tidak buta juga tidak tuli, sehingga pantas jika terkadang timbul rasa iri terhadap mereka yang dengan mudah mengekspresikan perasaan pada lawan jenisnya. Syukurlah, Tuhan masih menyayangiku, Ia memberiku mereka yang selalu setia mendukung jalanku.

Adakah yang bisa dibanggakan dari sebuah relationship yang tidak pernah diakui agama??? Adakah yang pantas ditangisi pada kepergian seseorang yang tak terhubung darah, seseorang yang bahkan tak pantas untuk ditatap?? Ini zaman yang mengerikan. Ini dunia yang kejam. Dunia yang lebih sadis dari seorang ibu tiri!!!

Tuan...!! Aku sadar jika aku tak pantas mencintaimu. Namun, seperti yang kamu tahu, cinta itu datang dari Illahi, dan aku hanya bisa pasrah dengan takdirku. 

Tuan…!! Aku merasa lebih baik tidak pernah memilikimu daripada Tuhan hanya meminjamkanmu sesaat, lalu membawamu pergi dan membiarkan aku nelangsa dalam lukaku. Aku juga tidak butuh sebuah hubungan yang tingkat kepastiannya hanya 0,01%. Aku memilih terluka. 

Tuan…!! Tahukah kamu?
Aku lelah terus mencintaimu dalam diam. Aku ingin mendengarmu menyapaku, aku juga ingin kamu melihatku, meski dari jauh. Tapi, keinginan hanya tetap menjadi sebuah keinginan. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu. Ya, kamu lebih mencintai Illahi sehingga menutup mata dan hatimu akan cinta dari insan-Nya.

Tuan…!!! Setelah sekian lama aku memahat luka dihatiku, aku sadar bahwa aku harus bangkit. Aku jenuh, aku lelah, aku muak terus menerus memikirkanmu yang tak pernah menghiraukanku. Dan ternyata Illahi menjawab doaku. Aku merasa perasaanku padamu mulai memudar, meski butuh waktu panjang untuk menghapusnya. 

It’s so hard to say goodbye to yesterday, but it’s my choice. Dalam sujud malam bersama gemercik hujan yang menggebu, aku melepasnya. Peluk aku Rabbi………..


19.00|11213
Terinspirasi dari sms Liza dan kisah manis Ayu...
Illahi pasti akan memeluk kalian (kita)…
Zatul Omaira